Emisi Karbon di Lahan Gambut

Table of Contents

Emisi Karbon di Lahan Gambut

Lahan gambut merupakan salah satu agroekosistem lahan rawa yang banyak dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian.Lahan gambut mempunyai simpanan karbon yang besar karena keseluruhan gambut dan tanaman yang tumbuh diatasnya merupakan karbon tersimpan.

Total karbon yang tersimpan di lahan gambut dunia diperkirakan sebesar 550 Giga ton (Joosten 2009). Gambut dapat berfungsi sebagai penyimpan (sink) karbon ataupun sebagai sumber (source) emisi karbon sedangkan tanaman merupakan carbon sink melalui proses sekuestrasi (sequestrationprocess).

Vegetasi yang tumbuh di atas tanah gambut dapat menambat karbon dioksida dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan menambah simpanan karbon. Kehilangan karbon dapat juga terjadi dalam bentuk karbon organik terlarut (DOC, dissolved organic carbon).

Tanah gambut terdapat dua zona hidrologis yang memiliki karakteristik yang berbeda dan digambarkan sebagai “diplotelmik”, yaitu zona akrotelmik dan katotelmik. Zona akrotelmik merupakan lapisan gambut yang secara hidrologis-aktif‖ atau sangat dipengaruhi oleh fluktuasi muka air tanah dimana batas kedalaman lapisan ini adalah muka air tanah terendah saat musim kemarau. Zona katotelmik merupakan lapisan gambut yang permanen jenuh air dan memungkinkan muka air tanah tetap tinggi meskipun tetap terjadi peningkatan lapisan katotelmik (Ivanov, 1981).

Kriteria hidrologis ini berguna untuk menganalisis proses akumulasi dan dekomposisi gambut (Belyea dan Malmer 2004; Clymo 1984). Perubahan zona hidrologis sangat mempengaruhi penyimpanan karbon dan tingkat emisi karbon dari tanah gambut. Emisi karbon pada tanah gambut dimulai dengan teroksidasinya gambut akibat penurunan muka air tanah dan dekomposisi bahan organik.

Emisi karbon dapat diketahui melalui dua pendekatan yaitu pengukuran konsentrasi gas karbon secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran konsentrasi gas karbon secara langsung yaitu dengan metode mikro-meteorologi (Eddy kovarians) dan sungkup tertutup (Grøndahl, 2006). Kedua metode tersebut berbeda dalam skala pengukuran dan tujuan yang ingin dicapai. Mikrometeorologi menggunakan menara yang digunakan untuk mengkarakterisasi fluks CO2 secara terus menerus pada tingkat lapangan (skala hektar) dan sangat tergantung pada kecepatan angin selama periode pengukuran.

Simpanan karbon dapat berubah jika ada aktivitas konversi hutan menjadi lahan penggunaan lain/lahan pertanian karena dilepaskannya karbon ke atmosfer melalui pembakaran, dekomposisi sisa panen maupun pengangkutan hasil panen dan diikuti dengan hilangnya vegetasi. Dengan besarnya simpanan karbon yang terdapat di lahan gambut maka potensi lahan gambut untuk mengemisikan karbon ke udara sangat besar. Emisi karbon sangat berkaitan dengan laju dan proses dekomposisi. Faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi yaitu suhu, oksigen, kelembaban dan kandungan hara (Minkkinen et al. 2007; Moore dan Dalva 1997).

Setiarno (2020) Tipologi lahan yang berada di lahan pasang surut, terdiri dari:

 

  1. Lahan sulpat masam aktua, memiliki pH rendah (>3,5), horison sulfirik yang disebabkan teroksidasinya pirit yang terjadi akibat drainase yang berlebihan. Tipe luapan C/D. Lahan ini cocok untuk tanaman yaitu galam dan purun.
  2. Lahan sulpat masam potensial, memiliki pH rendah, terdapat pirit hingga kedalaman 100 cm. Tipe luapan A/B cocok untuk tanaman pangan atau tipe B/D cocok untuk tanaman hortikultura dan perkebunan.
  3. Lahan aluvial bersulfida dangkal bergambut, berupa tanah mineral yang memiliki pirit hingga kedalaman 50 cm dan kedalaman gambut 20-50 cm serta memiliki tipe luapan A.
  4. Lahan gambut dangkal, memiliki gambut dengan kedalaman 50-100 cm yang tingkat dekomposisi hemik-saprik. Memiliki subtratum liat yang mengandung pirit, terutama di rawa belakang dan sisi kubah gambut.
  5. Lahan gambut sedang, memiliki kedalaman gambut 101-200 cm, tingkat dekomposisi hemik dan sampai dengan saprik yang dijumpai pada sisi kubah gambut. Lazim memiliki tipe luapan C.
  6. Lahan gambut dalam, memiliki kedalaman gambut 201-300 cm dengan tingkat dekomposisi fibrik dan hemik, dijumpai pada kubah gambut.
  7. Gambut sangat dalam, memiliki kedalaman gambut >300 cm dengan tingkat dekomposisi fibrik sampai dengan hemik dan dijumpai pada kubah gambut. Lahan ini di drainasenya jelek sangat dalam.

Sumber: https://profilesinterror.com/whatsapp-penuhi-permintaan-pemerintah-benahi-konten/

Author: 2bfmp