Mengenal Tentang Kritik Teater

Mengenal Tentang Kritik Teater

Mengenal Tentang Kritik Teater

Mengenal Tentang Kritik Teater
Mengenal Tentang Kritik Teater

Pengertian Kritik Teater

Pengertian kritik secara etimogis (asal usul kata) sudah banyak disinggung pada materi pembelajaran seni sebelumnya. Sekedar untuk menyegarkan kembali, kritik dapat diartikan dengan ulasan, tulisan, tanggapan, penilaian, penghargaan, pada objek yang dikritik, yakni; karya seni, karya Teater. Karya Teater sebagai Objek, sumber, bahan kritik, dapat dilakukan melalui kegiatan apresiasi langsung dan tidak langsung. Apresiasi langsung, maknanya menonton, menyaksikan pergelaran Teater di gedung pertunjukan. Adapun, apresiasi karya teater bersifat tidak langsung, Kalian dapat menonton, menyaksikan melalui pemutaran, siaran ulang karya Teater dalam bentuk rekaman video dan jejaring sosial media (internet).

Untuk memahami mengenai kritik, pada bagian awal tepatnya pada pengantar pembelajaran kritik dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menanggapi sesuatu, yakni menilai, menghargai, karya Teater. Kritik pada karya Teater adalah proses dan produk kreatif dari seseorang melalui kepekaan; seni dan intelektualnya. Kepekaan inilah, menjadi prasyarat untuk seseorang menjadi Kritikus. Kritikus adalah orang yang melaksanakan kritik, ulasan dalam bentuk tulisan dengan objektif, tidak memihak, bijaksana, dan bertanggujawab pada karya kritiknya.

Penghargaan pada seseorang sebagai kritikus, bukan sekehendak hati. Tetapi adalah upaya panjang, terus-menerus menulis kritik dan pada akhir mampu menciptakan suatu iklim perubahan, kondusif dalam bidang ilmu yang digeluti dan dikritisinya. Salah satunya bidang Teater, sehingga melahirnya seorang “ Kritikus Teater “. Contohnya, Putu Widjaya, Teguh Karya, Arifin C, Noor, dst.

Untuk menjadi kritikus menurut pendapat H.B. Jassin, “untuk menjadi kritikus wajib ada bakat seniman sedikit banyaknya, sebab jiwa seniman hanya bisa dimengerti oleh orang yang juga memiliki bakat seni. Syarat kedua ialah jiwa besar. Kritikus yang besar ialah kritikus berjiwa besar dan sudah bisa melepaskan diri dari nafsu dengki, iri hati, benci, dan ria dalam hubungan pada seseorang.

Syarat ketiga ialah pengalaman. seorang kritikus wajib bicara atas pengalaman, supaya pendapatnya tidak dogmatis, tetap, tidak boleh diubah lagi, tapi seperti kehidupan penuh dengan serba kemungkinan dan tidak pula segera menyalahkan , membenarkan tanpa lebih dahulu melihat soal dari segala sudut.”

Seorang kritikus Teater dalam melaksanakan kritiknya, tugasnya, dia bekerja dengan menggunakan kepekaannya untuk mengetahui, menemukan, memaparkan, menjelaskan dan memahami karya Teater dalam bentuk simbol dan makna, nilai yang ditawarkan Sang Kreator pada penonton. Dalam melaksanakan kritik pada karya teater ada beberapa persyaratan sebagai unsur penting dalam membangun komunikasi kritik. Persyaratan yang di maksud dalam kritik seni, khususnya karya Teater meliputi:

  1. Kreator Teater, seniman, pembuat, pencipta teater disebut dengan Sutradara (art director).
  2. Karya seni, adalah wujud,benda, bentuk karya seni yang mengandung nilai–nilai keindahan dan nilai pesan, makna diciptakan kreator seni melalui medium diungkapkan dalam bentuk simbol.
  3. Pembaca, apresiator, penikmat seni adalah peryaratan yang tidak boleh dilupakan dalam kegiatan kritik. Kritik tanpa melibatkan unsur penonton adalah sia. Karena seni hadir untuk dinikmati, dihayati dan dihargai oleh masyarakatnya bukan untuk diri sendiri.

Jenis Kritik Teater

Kritik dalam karya seni dapat dibedakan: Kritik yang membangun (konstruktif), dan kritik yang menjatuhkan (destruktif).

  1. Kritik konstruktif, artinya kritik dilakukan oleh kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tentang karya Teater dengan kecenderung bersifat optimis dan positif tidak menjatuhkan seniman dan membingungkan pembacanya.
  2. Kritik destruktif, artinya kritik dilakukan oleh kritikus teater berisi ulasan dan tanggapan tajam tentang karya Teater dengan kecenderung bersifat pesimis dan negative, kadangkala melemahkan semangat kreator seni.

Kritik dibutuhkan untuk membangun iklim kondusif seni teater. Seni tanpa kritik adalah kemandulan kreativitas. Kritik dilakukan oleh penonton, tetapi tidak semua penonton dapat menulis kritik, hanya seorang kritikus yang konsisten pada bidang seni tertentu yang mampu melakukannya. Kritik seni, kritik karya teater berdasarkan sumber kemunculannya, Saini KM. mengatakan kritik teater dapat dibagi dalam dua jenis ”kritik akademis dan kritik jurnalistik”,. Kritik akademis biasanya dilakukan oleh orang-orang akademisi perguruan tinggi bersifat ilmiah akademik berupa hasil-hasil penelitian; skripsi, tesis, disertasi, dst. Adapun kritik jurnalistik yakni kritik mass media dilakukan oleh kritikus seni dan para jurnalis, sebagaimana kita dapat temukan pada beberapa terbitan surat kabar, majalah, buletin dst.


Baca Juga :

Author: 2bfmp