Tradisi kebudayaan masyarakat  Ende pada umumnya

Tradisi kebudayaan masyarakat  Ende pada umumnya

Masyarakat Ende Lio adalah salah satu dari sekian miliar masyarakat yang berbudaya di dunia. Ragam nilai budaya serta kearifan lokal Ende Lio yang dianut oleh masyarakat adalah seperangkat nilai yang diwariskan secara turun temurun dan sebagai bentuk identitas serta jati diri masyarakatnya. Karena menyangkut identitas maka budaya menjadi tata nilai fundamental untuk mengatur segala bentuk perilaku kehidupan manusia. Masyarakat Ende Lio secara historis budaya merupakan komunitas yang terlahir dan dibesarkan dengan nilai nilai budaya. Watak dan perilaku mencerminkan identitas budaya.

Segala bentuk usaha etis untuk mencapai tujuan hidup bersendikan nilai budaya, sehingga budaya menjadi unsur yang sangat menentukan arah serta gerak hidup dan masa depan masyarakat Ende Lio.

                                     Suasana Minu Ae Petu (minum Air Panas)

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, Masyarakat Ende khususnya mempunyai budaya yang sama dengan masyarakat Lio dalami sebuah tradisi gotong royong, terutama dalam menunjang suatu acara/kegiatan yaitu apa yang dinamakan “Minu ae petu”. Kata “minu ae petu” adalah ungkapan bahasa daerah Ende yang berarti “minum air panas”. Belum diketahui secara pasti kapan tradisi ini lahir, namum ia tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat, sebagai ungkapan kebersamaan diantara anggota masyarakat dalam membangun budaya ekonomi gotong royong. Tradisi “minu ae petu” pada masyarakat Ndona bukanlah merupakan suatu ritual adat istiadat namun didalamnya terdapat tatacara dan nilai-nilai adat istiadat. “Minu Ae Petu” dapat dilaksanakan kapan saja oleh keluarga-keluarga yang hendak melakukan sebuah  acara (hajatan) besar.

Pada mayarakat Ende  “acara Minu Ae Petu” awalnya hanya untuk acara pernikahan yang secara proses budaya akan melibatkan tokoh-tokoh adat. Namun seiring perubahan zaman dan tingginya kebutuhan dalam menyelenggarkan suatu kegiatan sehingga “minu Ae Petu” inipun terjadi pada persiapan-persiapan hajatan lain seperti pembangunan rumah ibadah, sambut baru, khitanan hingga urusan pendidikan anak sekolah.

Secara khusus dalam konteks pernikahan acara “minu ae petu” hanya dilakukan oleh keluarga dari calon mempelai pria. Sebelum kegiatan “Minu Ae Petu” keluarga yang berhajat akan mengundang para tetua adat untuk menentukan waktu pelaksanaan Minu Ae Petu yang dikenal dengan sebutan    “ So’o Kobe (Penentuan Waktu)”. Acara ini biasanya dilakukan satu bulan atau 3 minggu sebelum pelaksanaan kegiatan “Minu Ae Petu”. . Penentuan waktu ini wajib dilakukan agar dapat disesuaikan atau tidak terjadi benturan dengan acara atau kegiatan lain yang sudah disepakati oleh tetua adat ataupun kegiatan kemasyarakatn lainnya.

Setelah dilakukan penentuan waktu, keluarga dengan bantuan para pemuda disekitar akan mengundang atau memberitahu (wa’u nosi) keluarga, sahabat kenalan, tetangga, rekan kerja yang dikenal dengan sebuatan Aji Ka’e. Proses mengundang ini selain dilakukan secara lisan juga dilakukan dengan undangan tersurat. Sedangkan disisi lain terdapat undangan/pemberitahuan lisan secara khusus kepada pihak “weta ane”yang sudah menikah dengan keluarga lain (dari garis keturunan saudari) yang masih berhubungan/bertalian dengan keluarga calon mempelai pria untuk membicarakan tentang belis (mbabho buku) yang belum diselesaikan. Dalam Wa’u Nosi (pemberitahuan) juga memberitahu “Eda Embu (Saudara kandung dari Ibu calon mempelai pria) terkait dengan pelaksanaan Minu Ae Petu. Demikian juga pihak keluarga calon mempelia pria akan memberitahu keluarga calon mempelai wanita tentang waktu pelaksanaan Minu Ae Petu tersebut karena waktu yang sama (pada saat pelaksanaan minu ae Petu) akan dilakukan juga proses pembicaraan belis.

Sumber :

https://callcenters.id/

Author: 2bfmp