Kiat Menyikapi Rasa Takut dan Trauma Pada Anak

Kiat Menyikapi Rasa Takut dan Trauma Pada Anak

Suatu pagi, kami kedatangan seorang gadis kecil yang ditemani neneknya untuk meregistrasi bimbel. Namun, anak perempuan tersebut tiba-tiba menangis histeris di depan pintu pagar dan tidak inginkan masuk ke dalam. Dengan ramah, Kepala Unit mempersilakan sang nenek masuk dan bertanya maksud kedatangan nenek tersebut. Rupanya, nenek itu berniat guna mendaftarkan cucunya bimbel. Ia bercerita bila cucunya trauma guna bersekolah. Hal ini diakibatkan saat di sekolah lama, cucunya pernah dimarahi oleh gurunya.

Mendengar tangisan anak perempuan tersebut yang semakin keras, kami pun mengupayakan untuk mendekatinya. Perlahan kami menyapanya dan mulai mengenalkan diri. Setelah ia mulai tenang, lantas kami arahkan ia guna melakukan kegiatan yang ia sukai. Meskipun ia tidak inginkan masuk ke dalam kelas, namun kami mengupayakan untuk membuatnya merasa nyaman terlebih dahulu guna melakukan pekerjaan bermain seraya belajar.

Cerita di atas mungkin pun pernah dirasakan oleh Ayah Bunda. Anak merasa fobia bahkan trauma guna datang ke sekolah, sampai-sampai anak merasa tidak nyaman dan mogok bersekolah. Hal ini menciptakan kita sebagai orang tua merasa cemas akan pertumbuhan psikologis anak.

Berdasarkan keterangan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, takut ialah merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dirasakan akan menyebabkan bencana. Sedangkan, trauma ialah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai dampak dari desakan jiwa atau cedera jasmani.

Sebagai orang tua, penting untuk kita mengetahui teknik menyikapi rasa fobia dan trauma yang dirasakan oleh anak. Agar anak dapat menikmati kenyamanan ketika mendapatkan edukasi sesuai dengan usianya. Berikut ialah cara menyikapi rasa fobia dan trauma yang dirasakan oleh anak:

1. Mulai dengan pendekatan individual
Anak-anak, terutama anak umur dini adalahmakhluk istimewa yang mesti selalu diserahkan cinta dan kasih sayang yang tulus. Keingintahuannya yang paling besar menciptakan kita sebagai orang dewasa terkadang tidak jarang tidak sabar dalam mendidiknya. Biasanya, kita menginginkan anak dapat memahami apa yang anda perintahkan. Namun di sisi lain, ternyata kitalah yang seharusnya mengerti kemauan dan keinginan anak. Mulailah dengan mengerjakan pendekatan secara individual, lantas cari tahu apa yang mengakibatkan anak menjadi fobia dan trauma. Ajak anak untuk bertukar pikiran dengan anda dan tidak boleh lupa untuk membuat suasana yang nyaman untuk anak supaya anak inginkan bercerita tanpa rasa takut.

2. Lakukan secara bertahap
Setelah kita memahami penyebab anak menjadi fobia dan trauma, temui pembimbingnya di sekolah. Lakukan diskusi supaya kita memahami menurut kisah pembimbing. Kalau pembimbing mengetahui bahwa proses belajar yang mengasyikkan jauh lebih urgen dari hasil belajar, maka anak anda berada di lokasi yang tepat. Orang tua dan pemandu di sekolah dapat saling bekerja sama supaya anak tetap merasa nyaman sekitar mengikuti pekerjaan bermain seraya belajar di sekolah. Sebaliknya, bila pembimbing lebih mementingkan hasil belajar, usahakan orang tua menggali sekolah yang ramah untuk anak.

3. Selalu pakai Fun Learning
Di umur dini (golden age) anak memerlukan proses adaptasi yang berbeda-beda, terdapat yang cepat beradaptasi, tetapi ada pula yang perlu proses lama. Tekanan dan paksaan yang dirasakan oleh anak akan menciptakan ia fobia dan dominan trauma pada psikisnya. Tekanan tersebut pun akan menyebabkan anak menjadi benci belajar. Sebaliknya, bila proses belajar dilaksanakan dengan menciptakan anak nyaman terlebih dahulu, maka anak inginkan mengulangi proses belajarnya kembali. Semakin tidak jarang anak mengerjakan proses latihan, maka dominan pada kemampuannya yang semakin meningkat. Oleh sebab itu, anak bakal jauh lebih siap dan proses belajar pun bakal semakin mengasyikkan (fun learning).

Baca Juga :

Author: 2bfmp