Enam Naskah Kuno Sumbar Dipajang di Rakor ANRI, Salah Satunya Sempat Hilang

Enam Naskah Kuno Sumbar Dipajang di Rakor ANRI, Salah Satunya Sempat Hilang

Enam Naskah Kuno Sumbar Dipajang di Rakor ANRI, Salah Satunya Sempat Hilang

Enam Naskah Kuno Sumbar Dipajang di Rakor ANRI, Salah Satunya Sempat Hilang
Enam Naskah Kuno Sumbar Dipajang di Rakor ANRI, Salah Satunya Sempat Hilang

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mengadakan rapat koordinasi pengawasan kearsipan di Padang, Rabu, 27 Februari 2019. Rapat tersebut diikuti oleh lembaga/ Kementerian dan pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota se Indonesia.

Sumatera Barat (Sumbar) sebagian tuan rumah memanfaatkan momen tersebut sebagai promosi peninggalan sejarah masa lalu berupa tulisan-tulisan peninggalan sejarah berupa naskah kuno dari daerah itu dengan memajang beberapa naskah kuno. Sedikitnya 6 naskah kuno di pajang di lantai satu hotel pangeran Beach Padang.

“Naskah asli Tuanku Iman Bonjol yang asli dan beberapa naskah kuno lainnya sengaja kita pajang dalam kegiatan ini agar dapat dilihat perwakilan daerah lain yang hadir,” ungkap Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Wardarusmen kepada KLIKPOSITIF, Rabu, 27 Februari 2019.

Baca Juga

Keberadaan Berbagai Etnik Warnai Perjalanan Panjang Sejarah Kota Padang
Komisi X DPR RI Rancang Aturan SMK Terintegrasi dengan Dunia Industri
Pemerintah Putuskan KSP Jadi Pusat Informasi Virus Corona Indonesia
Menkumham Tandatangani Pencabutan Bebas Visa Warga China ke Indonesia
Wacana Pulangkan 600 WNI eks ISIS, Tagar #TolakEksWNIproISIS Menggema

Dijelaskannya, naskah asli tersebut sempat hilang akibat gempa Padang 2009 lalu.

Akhirnya kembali ditemukan dan dilakukan digitalisasi. “Beberapa tahun terakhir kami terus lakukan digitalisasi agar naskah tetap terjaga dan naskah memiliki file, yang tahan lama” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) Padang, Pramono, mengatakan, manuskrip naskah Tuanku Imam Bonjol secara garis besar menggambarkan perjalan ulama besar Minangkabau itu mulai dari perjalanan pergerakanya melawan kaum adat hingga ke pengungsian oleh bangsa Belanda.

Pramono menjelaskan, isi naskah sebanyak 480 halaman tersebut

merupakan gabungan catatan perjalan Imam Bonjol dan Anaknya yang bernama Naali Sutan Caniago.”190 halaman catatan Imam Bonjol sendiri mulai dari masa muda hingga pembuangan dan dibawa kembali ke Sumatera Barat, selebihnya catatan anaknya itu tadi,” jelasnya.

Dilanjutakannya, naskah berisi bagaimana masa itu terjadi penyerangan terhadap satu kampung di daerah bonjol, bagaimana cara pembagian harta rampasan perang, dalam naskah juga dituliskan mereka tak membunuh jika terjadi perlawanan, bagaimana suplai senjata saat itu.

Ia mangatakan untuk langkah awal, naskah sudah diterjemahkan oleh Sjafnir

Abu Naim, namun hanya dalam bentuk alih bahasa dan terjemahan bebas. Menurutnya, Alih bahasa masih kaku tidak menarik sehingga tidak cocok untuk kekinian, maka transpormasi media menjadikan naskah lebih diminati.

 

Baca Juga :

Author: 2bfmp