ORGANISASI TERORIS

ORGANISASI TERORIS

Table of Contents

ORGANISASI TERORIS

ORGANISASI TERORIS
ORGANISASI TERORIS

Banyaknya organisasi-organisasi yang berkembang belakangan ini menimbulkan suatu dilema tersendiri bagi kita semua, terutama para kaum intelektual/berpendidikan. Di satu sisi banyaknya organisasi-organisasi baik laba maupun nirlaba membuat perekonomian kita menjadi dinamis, artinya tidak selalu menggantungkan kepada pemerintah sebagai pusat perekonomian, melainkan pihak-pihak non pemerintah atau swasta dapat mengambil peran penting dalam membangun perekonomian. Namun di sisi lain, banyaknya organisasi-organisasi yang ada justru dapat menimbulkan suatu problem tersendiri dimana suatu organisasi berlomba-lomba untuk menjadi yang nomor satu dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain dengan menghalalkan segala cara. Kualitas dikorbankan demi mendapatkan apresiasi. Memang tidak sedikit dari organisasi yang ada masih berpedoman kepada nilai dan moral yang ada dalam menjalankan kegiatannya, tetapi sebaliknya tidak sedikit yang menggunakan cara yang tidak baik demi mengejar tujuan yang tidak baik pula.
Contoh yang paling sederhana adalah Organisasi kejahatan dunia yang disebut dengan Organisiasi Teroris. Mungkin sebagian dari kita tidak asing mendengar istilah Teroris. Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil. Teroris juga dapat diartikan sebagai orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan organisasinya, meski harus membunuh orang, meledakkan diri, menghancurkan gedung pemerintahan, atau sebagainya. Sebagian besar dari para teroris mengatasnamakan agama sebagai bentuk pembelaan diri dari aksi mereka, padahal sebenarnya tidak ada satu pun agama yang memperbolehkan aksi mereka.
Alasan penulis memilih Organisasi teroris karena meski merupakan organisasi yang paling berbahaya di seluruh negara di dunia, tetapi organisasi ini memiliki anggota yang cukup besar yang terbagi-bagi di seluruh negara. Meski daya dan upaya telah dilakukan untuk membasmi organisasi tersebut, tetapi sangat sulit untuk membasmi sampai ke akarnya. Contoh organisasi teroris yang paling terkenal di dunia adalah Al-Qaeda. Siapa yang tak kenal organisasi ini? Organisasi yang diduga menjadi penyebab utama hancurkan gedung WTC di Amerika dan sebagai penyuplai pelengkapan bagi organisasi-organisasi lain di seluruh dunia. Meski belakangan ini sudah jarang kita mendengar aksi mereka tetapi kita tidak boleh lengah, kita harus tetap waspada dan tidak boleh melupakan organisasi ini karena kita tidak tahu kapan mereka akan beraksi kembali. Sebelum organisasi ini dibasmi sampai ke akar-akarnya, kita tidak akan bisa tidur dengan nyenyak.

MASALAH
Masalah yang timbul akibat aksi organisasi ini sangat banyak dan kompleks. Tidak sedikit yang menderita karena kehilangan teman, saudara, bahkan keluarganya akibat aksi mereka. Menganggu stabilitas dunia terutama negara-negara maju seperti Amerika yang sering menjadi korban terorisme yang selain berdampak kepada stabilitas negara tersebut, juga menganggu stabilitas bagi negara-negara yang lain karena status Amerika sebagai negara adidaya. Tidak adanya rasa aman, trauma yang berlebihan terutama bagi para korban yang secara langsung menerima dampak dari aksi mereka, seperti bom bunuh diri, pembunuhan massal, dan sebagainya.
LANDASAN TEORI

Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme, satu di antaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear[5].” Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror[6]. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukandimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.
Sejauh ini belum ada batasan yang baku untuk mendefinisikan apa yang dimaksud dengan Terorisme. Menurut Prof. M. Cherif Bassiouni, ahli Hukum Pidana Internasional, bahwa tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit mengadakan pengawasan atas makna Terorisme tersebut. Sedangkan menurut Prof. Brian Jenkins, Phd., Terorisme merupakan pandangan yang subjektif[7], hal mana didasarkan atas siapa yang memberi batasan pada saat dan kondisi tertentu. Berikut teori-teori mengenai teroris dari para ahli dan sumber yang kompeten,
Menurut Black’s Law Dictionary
Terorisme adalah kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana (Amerika atau negara bagian Amerika), yang jelas dimaksudkan untuk mengintimidasi penduduk sipil, memengaruhi kebijakan pemerintah, memengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan atau pembunuhan .
Menurut Webster’s New World College Dictionary (1996)
definisi Terorisme adalah “the use of force or threats to demoralize, intimidate, and subjugate.” Doktrin membedakan Terorisme kedalam dua macam definisi, yaitu definisi tindakan teroris (terrorism act) dan pelaku terorisme (terrorism actor).
Menurut Walter Laqueur
Terrorism consitutes the illegitimate use of force to achieve a political objective when innocent people are targeted.
Menurut US Federal Bureau of Investigation (FBI).
Terorisme adalah penggunaan kekuasaan tidak sah atau kekerasan atas seseorang atau harta untuk mengintimidasi sebuah pemerintahan, penduduk sipil dan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan-tujuan sosial atau politik .
PEMBAHASAN MASALAH
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon.
Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam waktu dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh, terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, menurut Dana Yatim-Piatu Twin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke World Trade Center merupakan penyerangan terhadap “Simbol Amerika”. Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia. Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku penyerangan tersebut.
Dalam organisasi teroris, selain pendekatan solusi kita juga harus mengetahui pendekatan secara karakter dan apa sasaran yang biasanya dilakukan oleh para teroris. Oleh karena itu, inilah secara garis besarnya karakter dan sasaran para teroris.
1.Karakteristik Psikologi Terorisme
Berdasarkan hasil studi dan pengalaman empiris dalam menangani terorisme yang dilakukan oleh PBB dapat disimpulkan beberapa karakteristik psikologi dari pelaku-pelaku teroris sbb:
A.Bahwa para teroris umumnya mempunyai persepsi tentang adanya kondisi yang menindas secara nyata atau khayalan.
B.Para teroris menganggap bahwa kondisi tersebut harus diubah.
C.Para teroris menganggap bahwa proses damai untuk mendapatkan perubahan tidak akan diperoleh.
D.Dan oleh karenanya cara kekerasan sah dilakukan yang penting tujuan tercapai.
E.Pilihan tindakan pada hakekatnya berkaitan dengan idiologi yang dianut dan tujuan yang oleh pelaku dirasakan sebagai kewajiban.
F.Oleh karena itu konsep deteren konvensional tidak efektif lagi dalam upaya pemberantasan terorisme.
G.Tanpa upaya resosialisasi dan reintegrasi ke dalam masyarakat, mereka akan lebih radikal dan para pengagum akan berbuat kekerasan lebih lanjut dan menjadikan mereka sebagai pahlawan (dan korban sekaligus).

Sumber : https://fgth.uk/rescue-wings-apk/

Author: 2bfmp