SEPUCUK SURAT UNTUK IBU

SEPUCUK SURAT UNTUK IBU

Table of Contents

SEPUCUK SURAT UNTUK IBU

SEPUCUK SURAT UNTUK IBU
SEPUCUK SURAT UNTUK IBU

Aku berlari saat mendengar langkah berat terseret-seret ditingkahi derik lantai papan rumah panggung kami yang sudah hampir roboh. Aku tahu itu pasti ibu yang baru pulang dari sawah. Wanita setengah baya yang telah membawaku ke dunia ini, berjalan gontai sambil melepas topi caping yang bertengger di atas kepalanya. Sungguh wanita yang sangat perkasa. Tubuhku yang kecil melompat manja ke pangkuannya saat dia duduk di atas dipan bambu yang bentuknya sudah tidak simetris lagi. Saat itu aku belum cukup mengerti, yang ku tahu aku sangat bahagia sore itu.

“ Anak ku, maukah kamu mengambilkan ibu secangkir air?” Katanya dengan lembut sambil mengecup pipiku yang menempel di bahunya. Tanpa meminta dua kali aku langsung mengambilkan secangkir air segar untuknya. Aku sangat bahagia, “Jangankan kau suruh aku mengambilkan segelas air, seember air embun pun akan aku tampung hanya untuk mu seorang ibu.” Kataku dalam hati.

Dia selalu menidurkanku di dalam pangkuannya sambil menyanyikan tembang pengantar tidur. Dia tidak akan berhenti hingga aku tertidur pulas dalam belaiannya yang penuh kasih. Walaupun tubuhnya yang semakin tua sudah bekerja membanting tulang seharian, dia tidak pernah mengeluh. Dengan sabar dia membesarkan aku dan kakak-kakak ku dengan segala kasih sayangnya yang tulus. Rasa sayangnya melebihi rasa sayang kami kepadanya. Entah kapan aku mulai mengerti itu semua. Tapi aku sangat takut saat ibu tiba-tiba saja hilang dari sisiku walaupun hanya untuk sejenak. Aku hanya ingin bersamanya untuk selamanya.

Keinginan terbesarnya adalah membuat kami lebih baik darinya. walaupun dia tidak segan memukul kami dengan kemoceng, saat dia tahu kami bertengkar tapi dia adalah wanita paling lembut yang pernah aku temui di muka bumi ini. Tak sedetikpun ku dengar keluhan terlontar dari mulutnya. Setiap hari dia mengajarkan kami bagaimana menghadapi kehidupan ini. Walaupun kami selalu kekurangan dan hidup susah. Mungkin baginya kesusahan yang menderanya saat ini hanyalah sebuah petualangan seru yang harus dihadapinya.

Semenjak kedua saudaraku pergi dari rumah untuk melanjutkan kuliahnya, kini tinggal aku yang menemaninya. Walaupun hidup kami susah dan bahkan terkadang ketika pagi tiba, ibu harus kebingungan mencari segenggam beras untuk dimasak hari ini, tapi ibuku tidak pernah berhenti memperjuangkan pendidikan kami anak-anaknya. Dia menggantungkan impiannya di bahu kami bertiga. Saat kedua orang kakakku pergi untuk melanjutkan pendidikannya di tempat yang jauh, dia tidak membekali mereka dengan uang yang banyak. Dia hanya menyisipkan beberapa uang kertas yang entah dari mana dia dapatkan. Tapi kenyataannya sekarang, bahkan saat aku akhirnya tiba waktunya untuk kuliah, dia tetap memiliki uang untuk membiayai segala keperluan kuliahku. Setiap bulan dia tidak pernah terlambat mengirimkan bekal kami di perantau, walaupun memang tidak pernah lebih bahkan terkadang kurang. Uang yang dikirimkan tidak mencukupi sampai akhir bulan.

Dalam usiaku yang menjelang remaja dia mengajarkanku banyak hal. Bahkan dia mendidikku untuk melakukan semua pekerjaan dapur yang pada umumnya dikerjakan oleh anak perempuan. Baginya tidak ada perbedaan antara pekerjaan laki-laki dan perempuan. Awalnya aku tidak senang melakukannya, namun saat aku mengingat dulu dia pernah memanjat pohon yang tinggi hanya untuk mengambil layang-layangku yang tersangkut di puncak pohon jambu di belakang rumah akhirnya aku mulai dapat menerimanya. Dia selalu berpesan, “Untuk hidup kamu tidak boleh pilih-pilih, selama kamu masih mampu dan pantas untuk melakukannya, lakukanlah”. Sungguh dia ini wanita perkasa yang tidak pernah mengeluh.

Kini dia sudah tua, garis-garis keriput tanda usianya yang sudah tua semakin jelas terlihat di wajahnya yang sendu. Sisa-sisa kecantikannya bagiku tidak pernah habis walaupun seluruh wajahnya tinggal keriput-keriput yang bagi sebagian orang adalah noda. Tapi baginya, keriput di wajahnya adalah sebuah kebanggaan yang setiap saat dapat menceritakan kisah keperkasaannya. Keriput itu telah membawanya sebagai sesosok wanita tua yang sangat kami cintai dan sangat kami hormati. Uban yang sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tak sekalipun di catnya menjadi hitam. Dia membiarkan layaknya sebagai sebuah mahkota kemenangan hidup yang telah diperolehnya dengan susah payah. Itu semua membuatku semakin kagum dan merindukan sosoknya di sisiku.

Aku ingat saat dia hendak memberangkatkan ku kuliah ke pulau Jawa ini. Saat kuliah masih sebuah impian mahal dan mewah bagi sebagian orang-orang di kampungku, dia telah memberangkatkan ketiga orang anaknya menggapai impiannya di perguruan tinggi. Dia telah berjuang untuk menyiapkan masing-masing satu kursi untuk ku dan kakak-kakak ku di sebuah universitas nun jauh di sana. Walaupun dia tidak pernah mengerti apa yang disebut dengan universitas, kuliah, SPP, KRS dan lain sebagainya. Tapi baginya itulah yang harus dia tahkluk kan. Dan itulah yang membuatnya begitu bersemangat untuk menyekolahkan kami, agar kebodohan yang mengekangnya tidak mengekang kami anak-anaknya.

Dalam kamus hidupnya dia tidak pernah mengenal kata “tidak” untuk pendidikan. Apapun akan dilakukannya, selama itu masih baik untuk membiayai pendidikan kami. Mungkin dia akan mengatakan tunggu atau tidak saat kami meminta baju baru tapi tidak pernah untuk pendidikan. Saat malam harinya aku meminta buku pelajaran kepadanya, besok harinya dia sudah menyodorkan beberapa lembar uang untuk membeli buku. Entah dari mana dia mendapatkannya.

Kini aku hanya bisa mengenang semuanya di balik kamar kos ku yang sempit ini. Aku sangat merindukan ibu, wanita perkasa yang bagi sebagian orang hanya seorang wanita tua yang lemah, tapi bagiku adalah malaikat hidupku. Sudah empat tahun lebih aku tidak mendengarkan suaranya, apakah masih semerdu dahulu. Aku harus rela menahan air mataku saat teman-temanku mengangkat telepon dari ibunya. Sementara aku, hanya bisa menantikan selembar surat yang datangnya entah kapan aku tidak tahu. Sangat mustahil bagiku untuk mendengarkan suara ibuku untuk saat ini. Entah kenapa, negeri ini sudah begitu lama merdeka, namun jaringan telpon pun masih belum merata di seluruh wilayah tanah air.

Aku hanya bisa membayangkan apa gerangang yang terjadi di dusunku yang kecil nun jauh di bawah kaki bukit barisan. Kampung kecil yang tersembunyi di rimbunnya hutan belantara Sumatera. Listrik saja belum sepuluh tahun masuk ke dusun kecil itu. Alangkah bedanya dengan kehidupan di kota, segala sesuatu begitu mudah dan gampang. Jika rindu dengan seseorang tinggal tekan nomor yang dituju, lalu sudah bisa mendengar orang berbicara beratus-ratus kilometer di belahan bumi manapun.

Mungkin aku sempat begitu bahagia saat aku mendapatkan kesempatan untuk keluar dari kungkungan penjara ketertinggalan dusun kecilku. Ini semua berkat ibu. Saat aku sudah menikmati indahnya kehidupan di kota, sementara dia masih bergelut dengan rumput dan lumpur sawah. Terkadang aku merasa tidak adil dengan kehidupan ini. Tanpa terasa aku harus rela satu persatu air mataku mengalir deras di pipiku. Sungguh aku sangat merindukannya. Aku rindu dekapannya, aku rindu belaiannya bahkan aku rindu tamparan tangannya di wajahku. Hingga aku tersadar saat temanku memanggilku.

“ Gus, lagi ngapain?” Dia memukul pundakku dari belakang sambil membuyarkan lamunan ku. Agus, itulah nama ku. Mungkin aku adalah orang kampung sejati, tapi ibuku berpendapat lain untuk tidak memberikan aku nama yang kampungan. Baginya nama adalah doa, sehingga dia yakin nama yang bagus akan berpengaruh kepada nasib yang membawa seseorang.

Sumber : https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/

Author: 2bfmp