Mahasiswa ITS Gagas Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Mahasiswa ITS Gagas Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Mahasiswa ITS Gagas Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Mahasiswa ITS Gagas Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium
Mahasiswa ITS Gagas Perbaikan Patah Tulang dengan Magnesium

Civitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berupaya menghasilkan

gagasan-gagasan inovatif yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Salah satunya tim mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Ilmu Alam (FIA) yang menggagas suatu pengembangan material ortopedi untuk memperbaiki patah tulang dengan berbasis magnesium.

Adalah Mohammad Mualliful Ilmi dan Denny Okta Kusumawardhana yang berhasil memunculkan gagasan inovatif tersebut. “Kami berusaha mengembangkan material ortopedi yang berbasis magnesium. Selama ini alat-alat ortopedi dibuat dari alloy (perpaduan logam, red), titanium dan platina,” jelas pria yang akrab disapa Ilmi itu.

Tetapi, lanjutnya, logam-logam tersebut faktanya sulit terdegradasi dan dapat menjadi racun jika larut dan bebas ke dalam tubuh dalam jumlah besar. Alat ortopedi sendiri merupakan alat fiksasi patah tulang yang biasanya dipasangkan di tulang yang patah agar bisa menyambung kembali dan mengalami penyembuhan.

BACA JUGA – Alumni ITS Isi Kuliah Wawasan Teknologi

Menurut pengakuan Ilmi, ide tersebut ternyata terinspirasi dari pengalamannya sendiri

yang pernah mengalami operasi patah tulang. Kegiatan operasi tersebut mengharuskan tulangnya dipasang implan dan membutuhkan biaya besar untuk mengambilnya. “Akhirnya saya berkeinginan untuk mencari potensi material pengganti yang dapat terdegradasi tanpa pengangkatan dan dapat disintesis secara ramah lingkungan,” ungkap Ilmi.

Dari pengalaman dan pemikiran itulah, akhirnya Ilmi mengajak Denny yang merupakan rekan satu departemennya untuk mewujudkan gagasan tersebut. Selain itu, dalam karyanya tersebut, Ilmi juga merancang metode produksi magnesium yang ramah lingkungan.

Menurutnya, selama ini produksi magnesium selalu menggunakan proses down

yang mencemari lingkungan karena perlu penggalian atau penambangan yang merusak lingkungan dan mengemisikan CO2. “Sedangkan kami mencoba menggunakan metode elektrolisis langsung yang cukup pakai energi listrik, dan magnesiumnya kami peroleh dari air laut,” papar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia (Himka) itu.

Hebatnya lagi, gagasan yang cemerlang itu pun telah berhasil mengantongi juara pertama dalam ajang Indonesian Youth Conference on Sustainable Development (IYCSD) 2017 di Yogyakarta, akhir September lalu.

 

Sumber :

https://obatsipilisampuh.id/

Author: 2bfmp