Burung Maleo Terancam Tinggal Cerita

Burung Maleo Terancam Tinggal Cerita

Burung Maleo Terancam Tinggal Cerita

Burung Maleo Terancam Tinggal Cerita
Burung Maleo Terancam Tinggal Cerita

Alih fungsi belasan ribu hektar hutan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone atau TNBNW, Gorontalo, mengancam populasi dan habitat burung maleo. Hal ini disampaikan seorang pegiat lingkungan hidup di Gorontalo, Senin (7/6/2010).

“Dengan diputuskannya pengalihan hutan konservasi di TNBNW seluas 14.000 hektar menjadi hutan produksi, cepat atau lambat hal itu akan mengancam Maleo,” kata Muhammad Djufryhard, pengurus Komunitas untuk Bumi (Kubu) Gorontalo. Kelompok ini merupakan gabungan dari berbagai elemen yang memerhatikan masalah pelestarian alam dan lingkungan.

Menurut Muhammad, Hutan Hungoyono yang selama ini menjadi wilayah konservasi dan habitat burung maleo atau Macrocephalon maleo termasuk kawasan yang terkena kebijakan alih fungsi tersebut.

“Kawasan hutan konservasi itu dialihfungsikan menjadi hutan produksi,” katanya.

Saat ini, kegiatan perlindungan dan penangkaran burung maleo menurutnya masih berlangsung. Sejak 2003, petugas konservasi telah berhasil melepas 2.600 anak burung maleo ke alam bebas. Anak-anak burung itu sebelumnya menetas di kawasan konservasi.

Maleo merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Pulau Sulawesi. Burung yang dikenal antipoligami itu hanya bisa hidup dan bertelur di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau memiliki energi panas bumi.

“Kepunahan burung maleo di Hutan Hungoyono tinggal menunggu waktu saja. Izin pengelolaan hutan produksi akan membuat populasinya menjadi lebih sedikit dan bahkan akan hilang sama sekali,” kata dia.

Alih fungsi hutan taman nasional menjadi hutan produksi itu diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Menurut dia, kondisi ini antara lain dipicu oleh penambangan emas tanpa izin yang sedang marak.

Alih fungsi belasan ribu hektar hutan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone atau TNBNW, Gorontalo, mengancam populasi dan habitat burung maleo. Hal ini disampaikan seorang pegiat lingkungan hidup di Gorontalo, Senin (7/6/2010).

“Dengan diputuskannya pengalihan hutan konservasi di TNBNW seluas 14.000 hektar menjadi hutan produksi, cepat atau lambat hal itu akan mengancam Maleo,” kata Muhammad Djufryhard, pengurus Komunitas untuk Bumi (Kubu) Gorontalo. Kelompok ini merupakan gabungan dari berbagai elemen yang memerhatikan masalah pelestarian alam dan lingkungan.

Menurut Muhammad, Hutan Hungoyono yang selama ini menjadi wilayah konservasi dan habitat burung maleo atau Macrocephalon maleo termasuk kawasan yang terkena kebijakan alih fungsi tersebut.

“Kawasan hutan konservasi itu dialihfungsikan menjadi hutan produksi,” katanya.

Saat ini, kegiatan perlindungan dan penangkaran burung maleo menurutnya masih berlangsung. Sejak 2003, petugas konservasi telah berhasil melepas 2.600 anak burung maleo ke alam bebas. Anak-anak burung itu sebelumnya menetas di kawasan konservasi.

Maleo merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Pulau Sulawesi. Burung yang dikenal antipoligami itu hanya bisa hidup dan bertelur di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau memiliki energi panas bumi.

“Kepunahan burung maleo di Hutan Hungoyono tinggal menunggu waktu saja. Izin pengelolaan hutan produksi akan membuat populasinya menjadi lebih sedikit dan bahkan akan hilang sama sekali,” kata dia.

Alih fungsi hutan taman nasional menjadi hutan produksi itu diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Menurut dia, kondisi ini antara lain dipicu oleh penambangan emas tanpa izin yang sedang marak.Sumber : https://freemattandgrace.com/

Author: 2bfmp