Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang

Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang

Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang

Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang
Kisah RSTKA Lakukan Operasi di Tengah Goncangan Ombak Pulau Mataalang

Rumah Sakit Kapal Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) kembali melaksanakan misi kemanusiaannya,

mengarungi samudera untuk berdharma bakti di bidang kesehatan.

Kali ini RSTKA baru saja selesai dari Pulau Mataalang, Sulawesi Selatan dan saat ini sedang menyelesaikan misi terakhir di Pulau Sailus. Berada di Pulau Mataalang, RSTKA harus berhenti di tengah laut karena tidak bisa merapat ke dermaga dikarenakan saat itu sedang ombak dangkal dan banyak batu karang.

Kapten Kapal, Mudatsir mengatakan bahwa jalan keluarnya adalah semua juru turun menggunakan dan mengangkat kapal ditengah lautan. “Kalau memaksakan bersandar, kapal bisa kandas. Satu-satunya jalan kapal buang jangkar di tengah laut. Lalu, satu-satunya cara untuk mengangkut pasien dan paramedis dari pulau ke kapal dan sebaliknya adalah menggunakan sekoci,” terangnya kepada beritajatim.com Rabu (30/10/2019) melalui pesan teks daring.

Sekoci pun tidak bisa merapat sampai dermaga, hanya bisa mengantar sampai batas terdekat.

Selanjutnya penumpang turun dan berjalan telanjang kaki di air laut yang dangkal sampai ke tepi pantai. Siang itu di bibir dermaga, masyarakat terutama para pasien sudah menyambut kedatangan tim RSTKA. Mereka datang dari beberapa pulau terdekat.

“Bagi masyarakat setempat kedatangan RSTKA dan tim dokter adalah berkah luar biasa. Kehadirannya sangat berarti bagi masyarakat yang rindu akan pelayanan kesehatan yang memadai,” kata Mudatsir mengisahkan kesan para pasien.

Mudatsir pun mengisahkan seorang Bidan setempat bernama Sriani (38). Apabila petugas

Puskesmas tak mampu menangani pasien, termasuk ibu-ibu yang mengalami kesulitan kelahiran, pasien akan dirujuk ke rumah sakit di Makassar atau Bima.

“Padahal, untuk menuju ke sana bukan pekerjaan mudah. Butuh waktu tempuh belasan jam dan biaya sangat tinggi. Selain itu, kondisi alam sering tak menentu. Faktor alam menjadi penentu bisa atau tidaknya perjalanan dilanjutkan. Inilah halangan terberat masyarakat kepulauan termasuk Matalaang ketika sakit dan perlu perawatan lanjutan,” lanjutnya.

 

Sumber :

https://t.me/belajarngeblogbareng/8

Author: 2bfmp