Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kemristekdikti Datangkan 1.000 Profesor Asing

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kemristekdikti Datangkan 1.000 Profesor Asing

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kemristekdikti Datangkan 1.000 Profesor Asing

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kemristekdikti Datangkan 1.000 Profesor Asing
Tingkatkan Mutu Pendidikan, Kemristekdikti Datangkan 1.000 Profesor Asing

Dalam meningkatkan kualitas publikasi internasional dan mutu pendidikan tinggi di Tanah Air

, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, pemerintah akan melakukan kolaborasi riset dengan perguruan tinggi (PT) terbaik dunia.

Sebagai jembatan untuk mewujudkan kolaborasi ini, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan mengundang 1.000 profesor asing ke Indonesia. Mereka akan berada di Indonesia selama waktu yang ditentukan untuk melakukan riset bersama, publikasi ilmiah, hingga membantu meningkatkan kualitas mutu pendidikan Indonesia.

“Skema ini sedang kami bicarakan dengan Kementerian Keuangan. Mudah-mudahan bisa

dijalankan tahun ini,” kata Nasir kepada Beritasatu di gedung Kemristekdikti, Rabu (27/3).

Lanjut Nasir, kedatangan profesor asing ke Indonesia ini tidak berarti bertujuan untuk menyaingi profesor dalam negeri. Namun, ini semata-mata bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara dosen dalam negeri dan profesor kelas dunia.

Oleh karena itu, apabila telah disetujui oleh Kementerian Keuangan (Kemkeu),

akan ada standar khusus bagi profesor asing yang akan masuk ke Indonesia. Misalnya, mereka minimal harus memiliki indeks Scopus lebih dari atau sama dengan 20 dan berdasarkan data.

“Yang akan kami datangkan ini adalah profesor kelas dunia yang harus memberikan kontribusi nyata sebagai profesor luar negeri selama berada di Indonesia. Mulai dari bagaimana mereka dapat meningkatkan publikasi yang ada di Indonesia, hingga meningkatkan kualitas dosen Indonesia. Jika yang biasa-biasa saja kita sudah banyak,” jelasnya.

Mendatangkan profesor asing, kata Nasir, dilakukan karena pihaknya menilai hal ini lebih efektif ketimbang mengirimkan dosen Indonesia ke luar negeri untuk melakukan studi banding. Dengan ini, diharapkan akan berlangsung kolaborasi yang berkelanjutan.

Nasir menambahkan, skema mendatangkan profesor asing ini sebetulnya sudah berlangsung beberapa tahun terakhir ini melalui program World Class Professor (WCP) yang mendatangkan para ilmuwan diaspora Indonesia untuk melakukan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Para ilmuwan diaspora ini menjadi jembatan antara kerja sama perguruan tinggi Indonesia dan lainnya.

 

Sumber :

http://fenilu95.web.stmikayani.ac.id/sejarah-sunan-bejagung/

Author: 2bfmp