Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…

Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…

Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…

Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…
Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efrendi tidak terima jika program sekolah lima harinya dianggap bakal membunuh keberadaan madrasah diniyah. Kata dia, pemikiran itu salah.

“Jangankan bapak ibu, saya pun tidak akan tega. Sampai istilahnya membunuh madrasah diniyah. Saya sendiri (sekolah) ke diniyah,” tegasnya saat rapat dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (13/6).

Kata Muhadjir, justru mengenai Madrasah Diniyah tercantum dalam peraturan menteri yang disahkannya hari ini. Yakni, Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah.

Progam Mendikbud Tak Bunuh Madrasah Diniyah, Ini Penjelasannya…
Ilustrasi (Dok.JawaPos.com)

Dikatakannya, pada Pasal 5 ayat 7 disebutkan, kegiatan keagamaan

sebagaimana dimaksud pada ayat 6 meliputi aktivitas keagamaan meliputi madrasah diniyah, pesantren kilat, ceramah keagamaan, katekisasi, retreat, baca tulis Al Quran dan kitab suci lainnya.

“Di sini tercantum tentang posisi madrasah diniyah,” tegasnya.

Sementara Pasal 6 menyebutkan, kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler

dalam pelaksanaan Hari Sekolah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1, dapat dilaksanakan di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

Sementara ayat 2 menyatakan, pelaksanaan kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler baik di dalam sekolah maupun di luar Sekolah sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dapat dilakukan dengan kerja sama antar sekolah, sekolah dengan lembaga keagamaan, maupun sekolah dengan lembaga lain yang terkait.

“Kalau kaitannya diniyah kita tidak utik-utik sama sekali. Justru anak siswa

yang kemudian sorenya ambil pelajaran diniyah itu diakui juga bagian delapan jam itu,” terangnya.

Bahkan Muhadjir mengusulkan nilai agama di rapot siswa cukup diambil dari madrasah diniyah itu. Begitu pula bagi mereka yang mengikuti kegiatan keagamaan di gereja, pura, maupun lembaga pendidikan keagamaan lainnya.

“Justru yang menilai mereka. Dikonversi jadi nilai yang ada di rapor. Kalau diniyah ada di situ mungkin pelajaran agama di sekolah tidak diperlukan lagi. Kita i

 

Sumber :

https://articles.abilogic.com/372234/examples-explanatory-texts-definition-structure.html

Author: 2bfmp