Sejarah Perkembangan Antropologi

Sejarah Perkembangan Antropologi

Sejarah Perkembangan Antropologi
Disiplin antropologi, merupakan product peradaban Barat yang relatif baru. Dalam sejarah lahirnya antropologi, perkembangan pengetahuan itu lewat suatu tahapan yang panjang. Koentjaraningrat (1987: 27-28) memaparkan bahwa lembaga-lembaga antropologi etnologi merupakan awal lahirnya antriopologi. Lembaga Societe Etnologique didirikan di Paris th. 1839 oleh cendekiawan M. Edwards, tetapi lambat laun lembaga ini terdesak oleh arti sociologique atau sosiologi. Sedangkan di London didirikan The ethnological Society oleh seorang tokoh anti perbudakan T. Hodgkin. Tujuan didirikannya lembaga ini adalah jadi pusat pengumpulan dan studi dari bahan etnografi yang berasal dari sebanyak mungkin kebudayaan di dunia ini. Dua puluh lima th. sesudah itu (1874) di London diterbitkan buku “Notes plus Queries in Anthropology”, untuk menyusun pedoman dalam mengumpulkan etnografi secara teliti.

Etnologi (ilmu perihal bangsa-bangsa), secara resmi diakui dalam dunia perguruan tinggi di Inggris bersama diadakannya suatu mata kuliah dalam bidang itu di Universitas Oxford th. 1884, bersama E. B. Tylor sebagai dosennya yang pertama. Tylor adalah seorang pakar arkeologi yang memperoleh pendidikan sastera perihal peradaban Yunani dan Romawi kuno. Tylor banyak berjasa dalam mengembangkan antropologi, dan terhadap th. 1871 ia menulis Researches into the History Mankind, kelihatan pendiriannya sebagai penganut evosionisme. Sedangkan karya yang terutama adalah Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Language, Art plus Custom. Di samping itu termasuk ia menulis perihal evolusi keluarga, dalam bukunya “On a Method of Investigating the Development of Institutions”. Ia memberikan bahwa keluarga berevolusi dari sistem matriarchate ke tingkat patriarchate (suatu pendirian yang semula berasal dari J. J. Bachoven).

Di Amerika Serikat etnologi diakui secara resmi bersama dibukanya Departement of Archeology plus Ethnology di Universitas Harvard terhadap th. 1888. Dalam perkembangannya lembaga etnologi di Amerika itu terdesak oleh arti “antropologi”, sebagai pengetahuan perihal manusia dalam segala aspeknya, baik fisik maupun budayanya dari manusia dahulu sampai sekarang (Koentjaraningrat, 1987: 29). Lewis H. Morgan (1818-1881) adalah perintis dan pelopor yang beri tambahan andil besar kepada pengetahuan antropologi, ia semula seorang pakar hukum yang tinggal di tempat hulu S. St. Lawrence dan di selatan danau Ontario dan Erie (Negara Bagian New York) sebagai pengacara. Dengan memperoleh wawasan dan pengetahuan yang luas perihal etnis Indian itu secara langsung dalam bidang etnografi, Morgan banyak mengkaji sistem kekerabatan (kinship system) hampir terhadap seluruh suku bangsa Indian yang amat banyak ragam dan berbeda itu.

Karya utama Morgan berjudul Ancient Society (1877) yang menggambarkan sistem evolusi masyarakat dan kebudayaan lewat delapan tingkat evolusi yang universal. Namun, teori Morgan perihal evolusi kebudayaan itu dikecam keras oleh para antropolog dari Inggris maupun Amerika, dan ia tak menjadikannya sebagai “pendiri antropologi” yang diakui dunia. Tetapi di Uni Soviet, teori Morgan demikianlah kondang sebab bersesuaian bersama ajaran Karl Marx dan F. Engels perihal evolusi masyarakat manusia (Koentjaraningrat, 1987: 44-45).

Sebetulnya, para ilmua Eropa sebenarnya sudah mengumpulkan segudang Info perihal orang-orang Asia, Amerika, dan Afrika sejak abad ke 16. Akan tetapi laporan-laporan itu kebanyakan tidak sistematis dan kurang terpercaya. Baru sejak abad kedelapan belas, para ilmuwan semakin mencurahkan perhatian terhadap studi literature dan tradisi-tradisi religius di Timur. Akan tetapi deskripsi-deskripsi yang terpercaya dan cukup rinci perihal “orang-orang luar pusat-pusat kebudayaan besar” jarang ditemui. Begitu termasuk untuk ahli-ahli sejarah dunia terhadap zaman Pencerahan, terpaksa memakai sumber-sumber seadanya yang kebanyakan kurang memuaskan untuk menjalani karya itu. Bahkan para pelopor antropologi terpaksa lakukan dekontekstualisasi dan seringkali sebabkan laporan yang naif perihal tersedia istiadat dan kebiasaan, hal ini berbeda bersama pelopor ekspedisi etnografi di dekade terakhir abad 19. Di mana terhadap dekade itu merasa nampak ilmuwan-ilmuwan propesional, dan kebanyakan lakukan survey di lokasi yang luas. Disinilah para antropolog metropolitan merasa mengorganisir pengumpulan Info etnografis yang sistematis. Model yang mereka mengfungsikan adalah laporan-laporan lapangan para pakar botani dan zoology, serta wujud etnografi yang mereka sukai adalah daftar prilaku dan teknologi budaya, yang seringkali memuat pengukuran fisik serta data sejarah alam (Kupper, 2000: 30).

Kemudian terhadap abad ke 20, terjadi pergeseran lebih jauh, yakni intensifnya studi-studi lapangan perihal bermacam kebudayaan. Franz Boaz lakukan studi jangka panjang terhadap masyarakat asli pantai utara British-Columbia, di mana ia mengumpulkan arsip-arsip yang amat banyak perihal teks-teks berbahasa tempat dari para informan kunci. Boas adalah sosok antropolog yang diakui sebagai “Bapak” pendiri antripolog. Ia adalah seorang kelahiran Jerman pakar geografi yang menulis buku The Central Eskitmo (1888). Suatu penelitian yang penting dikerjakan Boas, adalah penelitian yang akurat baik teks-teks dongeng maupun transkripsi fonetik perihal dongeng-dongeng dan motif dongeng. Boas termasuk mengembangkan teorinya perihal perkembangan kebudayaan yang dikenal bersama “Teori Marginal Survival” yang sesudah itu jadi embrio lahirnya “Teori Culture Area”.

Menurut Boas, perkembangan kebudayaan sebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang akan mendesak unsur-unsur lama ke arah tepi sekeliling tempat pusat perumbuhan budaya itu. Oleh sebab itu jika hendak mencari unsur-unsur kuno, maka tempat yang relevan untuk mendapatkannya adalah daerah-daerah tepi (Marginal). Boas termasuk sudah meletakan suatu konsepsi basic yang sampai sekarang ini dianut oleh hampir seluruh universitas di Amerika Serikat, yakni kesatuan dari seluruh pengetahuan perihal manusia dan kebudayaannya, atau: pengetahuan paleo-antropologi, pengetahuan antropologi fisik, pengetahuan arkeologi prasejarah, pengetahuan etnolinguistik, dan pengetahuan antropologi budaya, yang jadi sub pengetahuan antropologi keseluruhan. Kemudian ia mendirikan jurusan Antropologi di Universitas Columbia di New York, dan sejak itu di beberapa universitas lainnya di Amerika Serikat mengikuti jejaknya bersama mengadakan sub-sub pengetahuan berikut sebagai bagiannya (Koentjaraningrat, 1987: 126). Gagasan-gagasan Boas ini banyak dilanjutkan bahkan dikembangkan lebih jauh oleh murid-muridnya yang tergolong antopolog produktif, seperti; A. L. Kroeber, R. Lowie, A. A. Goldenweiser, P. Radin, R. Linton, L. Spier, E. Sapir, dan G. P. Murdock. Selain itu Boas termasuk sudah sukses edukatif antropolog wanita yang sukses, seperti; Ruth Benedict, Margaret Mead, Elsie C. Parson, Ruth L. Bunzel, dll.

Kemudian, tidak cuman itu yang para ilmuwan Rusia dan Polandia lakukan penelitian perihal orang-orang Siberia, dan para ilmuwan Eropa merasa menerbitkan studi-studi perihal masyarakat di tempat jajahan yang beriklim tropis. Antara th. 1915 dan 1918 Brosnilaw Malinowski (1884-1942) terjun dalam sebuah studi dilapangan perihal Kepulauan Tobriand di Melanesia, yang memperkenalkan pendekatan baru dalam riset etnografi. Ia lahir di Cracow Polandia sebagai keluarga bangsawan Polandia. Malinowski banyak tergoda oleh J. G. Frazer, The Golden Bough, oleh sebab itu ia amat tertarik oleh pengetahuan etnologi, dan melanjutkan studinya ke London School of Economics di Inggris bersama memperdalam “Ilmu sosiologi empirikal” di bawah bimbingan C. G. Seligman. Pada th. 1914 ia bersama perlindungan Seligman mengadakan penelitian ke Kepulauan Masim (sebelah tenggara Papua Nugini). Selama lebih dari dua th. ia meneliti orang Tobriand. Buku yang pertama ditulisnya adalah “Argonauts of the Western Pacific (1922), dan yang kedua adalah “Crime plus Costum in Savage Society (1926). Setelah itu berturut-turut terbit buku The Sexual Life of the Savages (1929) dan Coral Gardens plus Their Magic th. 1935 (Koentjaraningrat, 1987: 161-162).

Malinowski sukses mengembangkan suatu teori baru yang menganalisis kegunaan dari kebudayaan atau a functional theory of culture, kendati teori ini disusun setelah ia meninggal dalam bukunya A Scientifc Theory of Culture plus Other Essay (1944). Inti teori ini bahwa segala kegiatan kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu alur dari sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang terkait bersama seluruh kehidupannya. Selain itu, ia termasuk beri tambahan pemikiran-pemikiran yang punya nilai perihal “pengendalian sosial” atau “hukum”. Ia menghabiskan saat beberapa th. di lapangan, menyadari bahasa Tobriand dan secara sistematis bukan cuma mencatat sistem aturan, nilai-nilai, dan upacara-upacara yang berupa ideal, melainkan ia termasuk praktikan sehari-hari dalam kehidupan mereka. Dipengaruhi oleh sosiolog Emile Durkheim, ia berpendapat bahwa orang-orang Tobriand sudah membentuk suatu sistem sosial yang lembaga-lembaganya saling melindungi satu serupa lain dan bermanfaat sebagai sederet kebutuhan basic mereka. Ia tidak menyajikan tata keputusan sosial yang ideal, tetapi justru menyaksikan divergensi aturan-aturan dan ketertiban prilaku strategis dari tiap-tiap orang untuk memperbesar keuntungan spesial dalam praktik-praktik sosial yang tersedia dalam komunitas-komunitas kecil dan homogen (Kupper, 2000: 31).

Bentuk kerja lapangan layaknya ini, yang belakangan disebut “observasi partisipan” atau “pengamatan yang terlibat”, yang sudi tidak sudi jadi style standar dalam riset etnografis. Kemudian perkembangan berikutnya secara khusus mazhab British dalam antropologi mengeksploitasi potensi metode ini dan menghasilkan sederetan pendekatan klasik etnografi yang agaknya sudah terbukti handal dan dinyatakan sebagai prestasi antropologi sosial dan budaya yang paling lama di abad ke 20 (misalnya Firth 1936; Evans-Pitchard 1937; Malinowski 1922; 1935; Turner 1957). Beberapa lokasi Afrika, Indonesia, Melanesia, dan Amazon perlahan-lahan merasa terliput oleh serangkaian studi etnografi yang saling terkait, yang jadi basic bagi perbandingan regional yang intensif.

Dalam perkembangan selanjutnya, para evolusionistis masih meyakini bahwa sejarah sosial dan budaya umat manusia dapat ditata dalam serangkaian tahap-tahap baku, kendati tiap-tiap populasi berkembang bersama kecepatan yang berbeda. Gagasan pokok ini sudah digoyahkan oleh kritik-kritik para Boassian (pengikut teori Boass) dan ilmuwan-ilmuwan lain awal abad ke dua puluh, tetapi masih dipegang teguh oleh beberapa mazhab arkeologi dan dilanggengkan oleh penulis-penulis Marxis (Kupper, 2000: 31).

Memang terkandung usaha-usaha untuk memunculkan kembali sejarah evolusionis yang berupa umum dalam wujud yang lebih canggih (Gellner, 1988). Ada pula studi-studi rinci perihal tipe-tipe masalah yang sengaja dirancang untuk menerangkan sistem evolusi. Contihnya Richard Lee (1979) meneliti secara rinci, meneliti kehidupan ekonomi suku Kung Bushman dan secara tersurat mempunyai tujuan mencari petunjuk-petunjuk perihal langkah hidup populasi zaman Upper Palaeolithic. Studinya tunjukkan bahwa Kung dapat menjaga langkah hidup bersama teknologi simpel di lingkungan yang sulit, dan rincian-rincian organisasi sosial ekonomi. Kung secara luas disita sebagai paragdimatis dari kehidupan berburu meramu sekarang dan di jaman lalu (Lee, 1979; Lee dan De Vore 1968). Sebuah kritik yang amat kuat pengaruhnya bicara bahwa suku Kung justru dapat dipahami dalam konteks sejarah modern mereka yang tersendiri. Mereka sudah mewarisi kontak berabad-abad bersama para pastor berbahasa Bantu serta orang-orang kolonial Eropa, dan langkah hidup mereka tunjukkan adaptasi defensif terhadap eksploitasi (Wilmsen, 1989). Ada pula yang berpendapat pemahaman terbaik terhadap budaya Kung adalah sebagai misal lokal dari tradisi budaya yang khusus, sebagai pandangan pastor orang-orang Khoisan serta kelompok-kelompok Bushmen di Gurun Kalahari. Kritik-kritik itu mengingatkan kami kembali terhadap kritk-kritik Boassian terhadap kritik-kritik evolusionis dahulu (Kupper, 2000: 32).

Berkaitan bersama itu, terkandung tradisi asumsi lebih menitik-beratkan masalah universalitas manusia serta jalinan antara kapasitas dan bentuk-bentuk prilaku terhadap manusia maupun primata lainnya. Sejak th. 1970-an gerakan sosiobiologi berikan angin fresh terhadap tradisi ini, bersama mencampurkan titik berat etnologi terhadap sifat manusia dan teori seleksi; lembaga-lembaga layaknya tabu incest dapat diterangkan dari sumbangannya terhadap evolusi. Para pakar antropologi sosial dan budaya lebih kagum oleh keragaman rutinitas istiadat dan kecepatan pergantian yang dapat dialami tiap tiap kebudayaan layaknya yang dikerjakan tradisi itu.

Sebuah pendekatan alternatif perihal universalitas manusia di tawarkan oleh strukturalisme Claude Levi-Strauss, yang berpendapat bahwa proses-proses intelektual umu yang ditentukan oleh susunan asumsi manusia merupakan basic bagi seluruh kebudayaan (Levi-Strauss, 1963; 1977). Ia tergoda oleh rancangan linguistik struktural, tetapi pendekatan-pendekatannya sesudah itu lebih didasarkan teori-teori kognisi.

Pendekatan ilmu-ilmu sosial mendominasi antropologi sosial dan budaya, hampir selama abad dua puluh, dan bersesuaian bersama pendekatan behavioral serta politivistik. Di Eropa, arti antropologi sosial jadi umum dan mencerminkan efek dari tradisi Durkheim dalam sosiologi. Studi-studi etnografi kebanyakan ditulis dalam kerangka “fungsionalis” yang mengangkat saling keterkaitan antara lembaga-lembaga dalam sebuah masyarakat tertentu. Di antaranya tersedia yang tergoda Marxis terhadap dasawarsa 1960-an dan 1970-an. Tetapi sejak pertengahan 1980-an, pendekatan sosiologi yang sifatnya individualis jadi populer, kendati begitu tradisi strukturalis termasuk masih selamanya bertahan (Kupper, 2000: 32).

Kebanyakan para pakar antropologi di Eropa, kini lebih terbuka dari terhadap pendahulunya terhadap gagasan-gagasan yang berakar dari antropologi budayaa di Amerika (Kupper; 1992). Banyak pakar antropologi Amerika secara khusus berminat terhadap psikologi, dan berkembanglah sebuah spesialisasi yang diajukan untuk menerapkan teori-teori psikologi masyarakat non-Barat. Pada awalannya minat mereka khususnya adalah terhadap sosialisasi, tetapi belakangan ini fokusnya berubah ke studi perihal kognisi (D’ Andrade: 1994).

Terdapat termasuk usaha-usaha untuk mengembangkan tipologi-tipologi sistem sosial, agama, kekerabatan, politik, dan seterusnya. (Fortes dan Evan Pritchard, 1940) di Amerika Serikat, Murdock sebabkan semacam database lintas budaya untuk memudahkan pengujian hipotesis-hipotesis perihal jalinan antara bermacam variabel, layaknya wujud keluarga dan ekonomi, atau antara sistem inisiasi para pemuda dan praktek perang, etc (Murdock, 1949). Ada termasuk tradisi panjang dalam perbandingan budaya regional, yang memperhitungkan hubungan-hubungan historis dan coba menyaksikan kesinambungan-kesinambungan di tingkat lokal.

Boass dan para mahasiswanya cenderung menitik-beratkan keragaman tradisi budaya lokal dan arah perkembangannya yang berupa aksidental. Sebagian dari rekannya yang paling kreatif pada akhirnya menyaksikan antropologi budaya sebagai keliru satu pengetahuan humaniora, dan setelah itu hal ini jadi pandangan dominan dalam antropologi budaya Amerika terhadap dekade terakhir abad dua puluh (Kupper, 2000: 32). Di antara tokohnya terdepan adalah Clifford Geertz, yang berpendapat bahwa secara umum adalah “penafsiran” bukannya “penjelasan” yang seyogyanya diutamakan dalam obyek antropologi budaya (Geertz, 1973).

Para antropologi yang berpandangan layaknya di atas, kebanyakan bersikap skeptis terhadap pendekatan-pendekatan pengetahuan sosial, agak mencurigakan kegunaan dari tipologi-tipologi, dan menolak apa yang mereka sebut sebagai teori-teori biologi “reduksionis”. Dan, sebagai efek yang dewasa ini berkembang adalah efek pengetahuan linguistik-humanistik Edward Sapir, tetapi dibalikkan oleh gerakan-gerakan dalam teori bidang linguistik, hermeneutika, dan studi literatur. Penghargaan terhadap langkah berfikir yang asing termasuk memunculkan asumsi gawat dan reflektif. Tuntunan-tuntunan terhadap sikap adidaya dari para rasionalis atau pandangan ilmiah dunia Barat termasuk menimbulkan kesangsian (Geertz dan Marcus: 1986).

Pada jaman pasca Perang Dunia II, seorang antropolog Perancis Levi-Strauss (1949/1963) mengembangkan pendekatan struktural yang mempunyai tujuan sebabkan asumsi umum perihal mentalitas manusia sebagaimana yang terungkap dalam institusi-institusi sosial dan mitos, supaya tidak cuma menyerap pemikiran-pemikiran Mauss, tetapi termasuk linguistik. Levi-Strauss adalah eksponen terkemuka dari antropologi struktural ini. Karya besarnya yang pertama “The Elementary Structures of Kinship (1963)” mungkin dapat dikatakan sebagai penemuan kembali dari perkawinan asimetris (yang ia sebut bersama arti exchange generalize), tetapi ia menempatkannya dalam konteks yang lebih luasa dan mendalam; secara etnografis bersama mengfungsikan bahan-bahan dari Siberia, Cina, India, dan Australia, khususnya sekali secara teoritis bersama sebabkan sistem exchange yang menerapkan rancangan incest dan exogami, menerapkan pertentangan antara alam dan kultur yang sesudah itu jadi hal yang fundamental dalam seluruh karya berikutnya. Levi-Strauss memengaruhi beberapa antropologi sosial lainnya termasuk Inggris yang terkemuka seperti; Edmund Leach, Mary Douglas, dan Ridney Needham. Meski begitu baik “ fungsionalis” maupun “strukturalis”, sama-sama di serang terhadap th. 1970-an. Kelompok kritikus Marxis menuduh kedua aliran ini sebagai “tidak cocok sejarah” dan menelantarkan sistem sosiologi makro. Berbagai teori Marxis dan teori ketergantungan jadi kondang ataupun berpengaruh setelahnya. Sementara itu di kalangan feminis melontarkan kritik bersama memperkenalkan sebuah perspektif baru bersama teori-teori feminismenya yang kami kenal sejak feminisme klasik Mary Wollstonecraft dan Virginia Woolf, sampai ferminisme generasi kedua layaknya Simone de Beavoir, Luce Irigary, Kate Milet, dan Carole Pateman (Lechte, 2001: 242-266; Hum, 2000: 354).

Jika diperhatikan perihal perkembangan ilmu-ilmu anggota antropologi, boleh jadi etnografi merupakan anggota yang paling sukses dalam antropologi sosial dan budaya. Namun apa sebenarnya kegunaan yang dapat disita dari studi-studi etnografi yang kebanyakan mengatasi komunitas-komunitas kecil terasing itu? Menurut Kupper (2000: 31) tersedia 4 jawaban dapat diberikan terhadap pertanyaan itu. Pertama, menurut asumsi evolusionistis orang-orang yang diakui primitif itu secara kesejarahan dapat beri tambahan pemahaman perihal langkah hidup nenek moyang manusia. kedua, menyaksikan gambaran ilmu-ilmu sosial (khusunya setelah 1920), banyak pakar antropologi berpendirian bahwa penelitian dan perbandingan etnografi akan memudahkan pengembangan pengetahuan sosial yang amat universal, yang menyentuh sekalian umat manusia, dan tidak menghambat diri terhadap studi-studi perihal masyarakat modern Barat. Ketiga, sejumlah pakar antropologi yang tergoda oleh etnologi dan sesudah itu sosiobiologi, meyakini bahwasanya etnografi komparatif akan mengangkat unsur-unsur kemanusiaan yang universal. Keempat, para humanis yang acapkali skeptis terhadap generalisasi-generalisasi perihal prilaku manusia, berpendapat bahwa pemahaman terhadap kehidupan yang asing itu sendiri akan banyak gunanya. Hal berikut akan memperluas pengertian kami perihal maknanya bagi manusia, menambah penghormatan kami terhadap relativitas nilai-nilai dan memperluas rasa simpati kita.

Pada th. 1980-an terjadi pergeseran penting, yakni orientasi sosiologi yang beri tambahan karakteristik dominan terhadap antropologi sosial hampir selama abad 20 itu, jadi suatu perhatian baru atas problem-problem pemaknaan dan kultur yang dipandang sebagai kategori residu oleh kalangan sosiolog komparatif. Para teoritisi Amerika dalam tradisi antropologi kultural layaknya Cliford Geertz dan David Shneider miliki efek penting di Eropa dan Asia. Kemudian giliran kaum pasca modern yang dipelopori beberapa ilmuwan muda, Amerika lakukan beberapa perubahan. Pergolakan teoretis ini diikuti hilangnya keyakinan akan obyektivitas dan reliabilitas metode lapangan dari etnografi. Proyek tipologi kalangan fungsionalis dan strukturalis ini sering ditolak sebab positivisme yang terkandung di dalamnya dan mungkin termasuk sebab arogansi dari transposisi kategori budaya Barat terhadap langkah hidup yang lain (Kupper, 2000: 972).

Tetapi terhadap saat yang seiring tradisi Anglo Perancis dari antropologi sosial sudah menyebar khususnya lewat Eropa Barat. Pada th. 1989 European Association of Social Anthropologists didirikan. Berdasarkan bermacam konferensi dan publikasi merebaknya asosiasi semacam ini (lihat jurnal Social Anthropology yang merasa dipublikasikan 1992), ditetapkan suatu sintesis baru. Para pakar antropologi sosial modern menciptakan bermacam teori sosial kontemporer (Kupper, 1992) dan mereka bereksperimen bersama suatu kisaran yang luas dari trik penelitian yang berupa komparatif, historis, dan etnografis. Sedangkan tradisi penelitian lapangan etnografi selamanya kuat, di mana kajian-kajian sering berupa jangka panjang dan historis. Banyak penelitian etnografi di beberapa lokasi dan timbulnya bermacam komunitas lokal ilmuwan termasuk sebabkan kajian-kajian lapangan jadi lebih terspesialisasi, bahkan dirasakan lebih canggih.

Baca Juga :

Author: 2bfmp