Full Day School Bisa Pengaruhi Emosi Anak Hingga Mogok Sekolah

Full Day School Bisa Pengaruhi Emosi Anak Hingga Mogok Sekolah

Full Day School Bisa Pengaruhi Emosi Anak Hingga Mogok Sekolah

Full Day School Bisa Pengaruhi Emosi Anak Hingga Mogok Sekolah
Full Day School Bisa Pengaruhi Emosi Anak Hingga Mogok Sekolah

Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) soal delapan jam sehari d

an lima hari dalam sepekan di sekolah menuai kritik. Hal itu dikhawatirkan akan memengaruhi psikologis anak.

Psikolog Anak dan Remaja Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan terlepas dari tingkat pendidikan apapun, anak SD/SMP/SMA dapat mengalami stres jika memang terlalu lama belajar akademik di dalam ruang kelas di sekolah. Dampaknya bisa macam-macam dan menyebabkan gangguan emosi.

“Mulai dari gangguan emosi (cepat meledak emosinya, misalnya) sampai menolak

untuk sekolah atau mogok sekolah,” tegas Vera kepada JawaPos.com, Rabu (14/6).

Setiap anak tentu memiliki kondisi yang berbeda, begitu pula di setiap negara. Tak bisa disamaratakan dengan negara maju, sebab menurut Vera, setiap anak berbeda kebutuhannya dan setiap negara berbeda pula pelaksanaan program belajarnya. Tidak bisa disamaratakan berdasarkan lama belajarnya saja.

“Tapi juga perlu dilihat apa yang anak-anak itu kerjakan sampai sore di sekolah.

JIka hanya diisi dengan duduk belajar di kelas tentu bisa mengakibatkan anak stres,” tukas Vera.

Vera menilai perlu kajian yang matang sebelum sampai pada kebijakan sekolah lima hari atau anak belajar 8 jam sehari. Dia berharap pemerintah sudah melakukannya dan menemukan solusi yang terbaik.

Dia juga menceritakan pengalamannya saat berhadapan dengan pasien anak yang stres karena belajar. Dampaknya anak tersebut memilih mogok sekolah.

“Anak tersebut sampai menolak sekolah karena sekolah yang terlalu panjang waktunya sangat melelahkan buat anak seusianya,” katanya.

 

Baca Juga :

 

 

Author: 2bfmp